Rabu, 18 November 2015

Jurnal Perilaku Konsumen




AKMENIKA UPY, VOLUME 8, 2011
Arif Sudaryana
Perilaku Konsumen dalam Berbelanja pada Supermarket di Yogyakarta

Latar Belakang
Pemasaran merupakan ujung tombak perusahaan dalam mencapai tujuan bisnisnya (Stanton) seperti bertahan hidup, memperoleh keuntungan dan berkembang. Tujuan tersebut akan dapat dicapai manakala perusahaan mampu menciptakan, mengantarkan serta mengkomunikasikan nilai melalui sebuah produk sehingga dapat meraih, mempertahankan pelanggan. Sehingga bidang pemasaran adalah merupakan bidang pengambilan keputusan yang sulit bagi perusahaan. Karena masalah pemasaran tidaklah memperlihatkan ciri-ciri kuantitatif murni dari masalah-masalah produksi, akuntansi atau keuangan. Berbagai variabel psikologis konsumen memainkan peranan penting dan besar dalam perencanaan pemasaran serta membentuk dan berinteraksi dalam fungsi bisnisnya. Pemahaman tentang bagaimana konsumen menanggapi tawaran perusahaan, memilih serta memutuskan produk yang akan dibeli adalah merupakan kunci sukses dalam pencapaian tujuan perusahaan. Untuk memahami konsumen dimulai dengan memahami kebutuhan dan keinginan yang menjadi motivas karena motivasi merupakan salah satu faktor psikologis kiranya perlu memperoleh perhatian sebab motivasi yang ada akan mendorong kebutuhan dengan diekspresikan dalam perilaku pembelian dan konsumsi suatu produk (Engel, Blackwell, Miniard, 1993.). Pemahaman motivasi konsumen dapat diperkirakan perilaku yang akan diekspresikan oleh konsumen sehingga pemasar dapat merancang rangsangan yang lebih tepat sehingga dalam melayani konsumen akan lebih baik dibanding pesaingnya. Oleh karena itu memahami perilaku konsumen terutama variabel kebutuhan dan keinginan konsumen sebagai motivasi adalah syarat mutlak bagi keberhasilan perusahaan.
Pada kondisi sekarang ini dengan adanya tuntutan waktu yang semakin sempit serta bergesernya budaya maka waktu yang tersedia untuk mencari alat pemenuhan kebutuhan sehari-hari juga berubah. Didalam memilih tempat berbelanja biasanya pembeli menghendaki tempat yang tidak jauh dari tempat tinggal, cukup strategis untuk dilalui dan mudah dicapai apabila ada kebutuhan yang sangat mendesak serta tempat parkir yang luas dan aman. Supermarket yang cerdik akan memilih lokasi dimana penghasilan penduduk yang stabil, terjamin dan tinggi. Jadi jumlah penduduk di sekitar lokasi akan menentukan jumlah calon langganan supermarket itu. Maka secara singkat dapat dikatakan bahwa lokasi supermarket memainkan peranan penting bagi suksesnya supermarket tersebut, sebab ia menentukan besarnya penjualan dan laba. Lokasi yang baik seringkali dapat menutup kelemahan pengelolaan, tetapi lokasi yang jelek dapat menjadikan kegagalan walaupun dikelola pengusaha yang paling trampil sekalipun (Basu Swastha Dh . 1987). Selain lokasi, pemilihan tempat untuk belanja bagi konsumen juga sering menginginkan aspek yang lain seperti kesenangan sebagai pleseiur. Motivasi konsumen akan dapat diketahui dari preferensi konsumen dalam memilih produk, karena preferensi konsumen atas atribut suatu produk merupakan manifestasi dari motivasi konsumen atas produk tersebut (Engel, Blackwell, Miniard, 1993). Motivasi yang ada akan mendorong proses dalam menentukan pilihan diantaranya berbagai alternatif dari kegiatan suka rela (Vroom dalam Gibson, Ivancevich dan Donelly, 1982).

Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode surve dilakukan dengan pengambilan data melalui penyebaran daftar pertanyaan yang ditujukan ke obyeknya.

Kesimpulan
a.              Berdasarkan analisis terhadap pengaruh berbagai atribut secara individual, masingmasing diketahui bahwa atribut kemudahan dalam berbelanja, keanekaragaman produk serta atribut harga mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perilaku konsumen dalam berbelanja. Diantara variabel tersebut, atribut kemudahan adalah variabel yang paling besar pengaruhnya. Namun jika dilihat kelima variable tersebut secara simultan maka semua variabel tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan sehingga layak sebagai variabel prediktor.
b.              Hubungan karakteristik konsumen dengan manfaat yang dicari, ternyata ada hubungan yang dignifikan antara jenis pekerjaan dan perbedaan tingkat pendapatan dengan kecenderungan memilih atribut yang ada pada supermarket sehingga perbedaan karakteristik akan memberikan perbedaan tanggapan atas setiap atribut yang ditawarkan oleh supermarket.



Jurnal Agribisnis dan Pengembangan Wilayah Vol. 1 No. 2, Juli 2010
ANALISIS PERILAKU KONSUMEN DALAM PEMBELIAN PRODUK SAYURAN DI PASAR MODERN KOTA BEKASI 
Oleh : Euis Dasipah, Haris Budiyono, Meilan Julaeni

Latar Belakang
Mengingat begitu penting manfaat sayuran bagi konsumen, maka komoditas ini memiliki nilai ekonomi yang besar bagi sektor agribisnis. Sayuran perlu dikonsumsi setiap hari oleh konsumen, untuk memelihara fungsi tubuh secara sehat, sehingga ketersediaan dan penawaran sayuran di pasar merupakan peluang bagi petani, pengelola pasar, dan pedagang sayuran.
Peningkatan jumlah penduduk Indonesia memiliki hubungan yang sejalan dengan peningkatan konsumsi sayuran di Indonesia. Menurut BPS (2005), diperoleh keterangan bahwa frekuensi konsumsi atau makan sayuran di kota-kota besar tidak begitu mengalami penurunan. Hal ini karena adanya daya beli konsumsi masyarakat cukup tinggi terhadap sayuran. Dengan demikian jelaslah bahwa mutu dan kesegaran sayuran sangat menentukan harganya. Padahal seperti produk hortikultura yang lain, sayuran sangat mudah rusak dan membusuk dalam waktu yang relatif singkat sehingga mutunya menurun dan bahkan tidak dapat dikonsumsi sama sekali. Hal ini berarti pasar harus selalu dipasok sayuran segar setiap hari. (Rahardi F., Rony Palungkun, dan Asiani Budiarti, 1999)
Peluang pemasaran sayuran saat ini adalah pasar swalayan, supermarket dan outlet khusus yang merupakan pasar modern yang menjual sayuran segar dimana konsumen kelas menengah ke atas sebagai pasar sasaran yang akan dituju, yang biasa membeli kebutuhan mereka berupa sayuran. Sayuran tersebut dijual dengan harga yang relative mahal dibandingkan dengan yang ada di pasar tradisional. Namun ada sebagian konsumen yang memilih untuk membeli sayuran di pasar modern seiring dengan meningkatnya tingkat pendapatan dan pengetahuan, serta pertukaran dan motif berbelanja lainnya.
Hal menarik lainnya adalah meskipun saat ini produk sayuran semakin tersedia di berbagai tempat berbelanja, namun penjualannya belum terlalu meningkat. Produsen maupun pemasar perlu memahami apa yang sebenarnya diinginkan oleh konsumen dan hal-hal apa saja yang mempengaruhi atau dipertimbangkan selama pembelian sayuran itu dilakukan. Perilaku konsumen yang membeli produk sayuran ini menarik untuk diteliti, tentang bagaimana alasan, jenis produk sayuran yang dibeli, jumlah frekuensi pembelian, dan sebagainya. Untuk keperluan ini maka menjadi penting untuk melakukan penelitian mengenai Analisis Perilaku Konsumen Dalam Membeli Produk Sayuran di Pasar Modern.

Metode dan Analisis Data
Data yang dikumpulkan merupakan data ordinal sehingga untuk menaikkan tingkat pengukuran menjadi interval digunakan Methode of Successive Interval.
Analisis Deskriptif digunakan untuk mendapatkan gambaran tentang (1) karakteristik responden dan (2) jenis komoditi yang paling diinginkan oleh responden dan digunakan untuk analisis bagi variabel yang dinyatakan dengan frekuensi baik angka mutlak maupun persentase.
Analisis Faktor digunakan untuk mentransformasi sejumlah variabel dependen menjadi variabel baru yang saling bebas, sehingga dapat diketahui variabel dan faktor-faktor dominan diantara varabel-variabel yang mempengaruhi konsumen dalam proses keputusan pembelian. Selanjutnya penelitian ini menggunakan metode ekstraksi Principal Component Analysis, yaitu suatu pendekatan dalam analisis faktor yang memperhitungkan total varian dalam data.

Kesimpulan
    1.          Karakteristik konsumen dalam membeli produk sayuran mayoritas responden (89%) adalah wanita, yang berusia antara 26035 tahun (41%) yang berstatus pernikahan telah menikah (73%), pada umumnya berpendidikan Sarjana dan Diploma (75%), yang berperan sebagai ibu rumah tangga (43%), yang memiliki pendapatan perbulan antara Rp 2.000.000 – Rp 3.000.000 (46%), dengan jumlah anggota keluarga 1-4 orang (67%).
    2.          Dalam perilaku berbelanja sayuran di pasar modern menunjukkan bahwa jenis sayuran yang diinginkan/diminati konsumen yang masuk dalam lima besar ini adalah bayam hijau, brokoli, wortel, jagung manis, dan sawi putih. Frekuensi berbelanja konsumen dilakukan sesekali bilamana ada keperluan (45%) dengan jumlah pengeluaran setiap kali membeli sayuran antara RP 25.000 – Rp 50.000 (37%) responden.
    3.          Faktor-faktor dominan yang mempengaruhi atau dipertimbangkan dalam proses pembelian sayuran adalah faktor budaya, faktor sosial, faktor pribadi dan faktor psikologi. Variabel-variabel dominan yang mempengaruhi atau dipertimbangkan konsumen dalam proses pembelian adalah keluarga, kelompok referensi, usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan, pembelajaran, peran dan status, kepribadian, motivasi, persepsi, demografi, gaya hidup, kelas social, keadaan ekonomi dan keyakinan.



Buletin Peternakan Vol. 35(2): 137-142, Juni 2011
PERILAKU KONSUMEN DALAM PEMBELIAN BAKSO DI MALANG
Budi Hartono*, Umi Wisapti Ningsih, dan Nila Fithria Septiarini

Latar Belakang
Kota Malang juga dikenal sebagai kota Bakso selain kota Apel. Bakso merupakan makanan daging sapi yang dicampur dengan terigu yang dimasak dengan proses tertentu untuk dikonsumsi. Bakso sangat populer dan digemari semua kalangan dengan harga yang bervariasi dan terjangkau oleh konsumen. Tarwotjo et al. (1971) menjelaskan bahwa bakso daging sapi merupakan sumber protein hewani karena daging sapi mengandung protein yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Usaha bakso membutuhkan tenaga kerja mulai dari lokasi penggilingan, sampai daerah produsen dan pemasaran. Bakso dibuat menggunakan daging segar agar dihasilkan bakso yang kenyal dan kompak. Bahan baku bakso umumnya berasal dari daging paha belakang sapi, akan tetapi dapat juga dibuat dari bagian karkas lainnya.
Usaha bakso dapat digolongkan sebagai usaha kecil. Parubak et al. (2004) menjelaskan bahwa usaha kecil mempunyai peranan penting dan strategis dalam mewujudkan pembangunan nasional. Usaha kecil merupakan usaha yang ditekuni oleh sebagian besar masyarakat dan merupakan usaha yang mampu memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan yang luas kepada masyarakat. Pemerintah terus berupaya membina kelompok usaha kecil agar menjadi usaha yang semakin efisien dan mampu berkembang mandiri dan dapat membuka lapangan kerja baru.
Dua faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen dalam melakukan pembelian yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Asseal, 1992). Faktor eksternal terdiri dari faktor lingkungan dan strategi bauran pemasaran. Faktor lingkungan terdiri dari faktor budaya, referensi dan kelas sosial. Strategi bauran pemasaran terdiri dari produk, harga, promosi, dan distribusi. Faktor internal terdiri dari faktor gagasan dan karakteristik konsumen. Faktor internal dan eksternal dalam interaksinya dapat mempengaruhi perilaku konsumen baik secara individual maupun secara bersama-sama.
Konsumen melakukan pembelian tidak terlepas dari karakteristik produk baik mengenai penampilan, gaya, mutu dan harga dari produk tersebut. Penetapan harga oleh penjual akan berpengaruh terhadap perilaku pembelian konsumen, sebab harga yang dapat dijangkau oleh konsumen akan cenderung membuat konsumen melakukan pembelian terhadap produk tersebut. Karakteristik penjualan bakso akan mempengaruhi keputusan membeli. Konsumen akan menilai mengenai penjual, baik mengenai pelayanan, mudahnya memperoleh produk dan sikap ramah dari penjual (Tedjakusuma et al., 2001).
Penjual bakso harus memahami keinginan konsumen dengan cara mempelajari perilaku konsumen agar konsumen bersedia membeli baksonya. Pemahaman perilaku konsumen yang baik dan tepat diharapkan akan mengembangkan kegiatan pemasarannya. Penjual bakso daging perlu mengenal konsumen, sasaran dan model keputusan yang dilakukan oleh konsumen, sehingga penjual bakso daging mengetahui motif konsumen dalam menilai bakso daging yang sesuai dengan hati nuraninya. Analisis faktor digunakan untuk menentukan urutan faktor yang dipertimbangkan oleh konsumen dalam membeli bakso daging di Kota Malang, sehingga perlu dilakukan penelitian agar penjual bakso dapat mempertahankan eksistensinya.

Metode Penelitian
Penelitian dilakukan dengan metode survei di Kota Malang dengan pertimbangan bahwa Kota Malang dikenal sebagai Kota Bakso.

Kesimpulan
Sebagian besar responden yang melakukan pembelian bakso adalah perempuan, berstatus pelajar, mempunyai umur di bawah 35 tahun, pendapatan individu yang diperoleh antara Rp. 1.000.000,00 sampai Rp. 2.000.000,00 per bulan dan harga bakso Rp. 5.000,00 seporsi dapat dikategorikan terjangkau. Pola mengkonsumi bakso bukan sebagai makanan pokok tetapi sebagai kuliner, hobi, dan makanan camilan. Delapan faktor yang dipertimbangkan responden secara berurutan adalah harga, kelas sosial, kemudahan mencapai lokasi, parkir, tampilan penyajian, kepuasan, pendapatan, dan demografi.



Sumber :

http://ekonomi.upy.ac.id/files/PERILAKU%20%20KONSUMEN%20DALAM%20BERBELANJA%20PADA%20SUPERMARKET%20DI%20YOGYAKARTA%20(ARIF%20SUDARYANA).pdf

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=19677&val=1236

file:///C:/Users/User/Downloads/600-485-1-PB%20(2).pdf



Minggu, 11 Oktober 2015

Perilaku Konsumen( Jurnal 1 & Jurnal 2)




PERILAKU KONSUMEN

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Perilaku konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Untuk barang berharga jual rendah (low-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan dengan pertimbangan yang matang.

1.2  Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui bagaimana Peranan Perilaku konsumen terhadap individu, anggota masyarakat, dan Keputusan konsumen.

1.3  Metode Penelitian
Metode penelitian yang dipakai oleh penulis adalah dengan objek yang dipakai Pada Perilaku Konsumen. Dengan memberikan pertanyaan yang telah dibuat penulis yaitu pertanyaan mengenai sejarah Perilaku Konsumen.

1.4  Kesimpulan
Berdasarkan uraian hasil penelitian dan pembahasan pada bab terdahulu, maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
Studi perilaku konsumen muncul seiring dengan berkembangnya konsep pemasaran, yang merupakan cara pandang pemasar dalam menghadapi konsumen dan pesaingnya, di mana pemasar berusaha memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen secara lebih efektif dari para pesaingnya. Tujuannya adalah memperoleh kepuasan pelanggan. Sehingga ilmu perilaku konsumen dibutuhkan untuk mengidentifikasi apa kebutuhan dan keinginan konsumen dan pelanggan tersebut sehingga pemasar mampu menyusun dan mengimplementasikan strategi pemasaran yang tepat untuk karakteristik konsumen yang menjadi target pasar. Pemahaman tentang konsumen ini diperoleh pemasar melalui penelitian-penelitian perilaku konsumen sehingga dapat dipertanggung-jawabkan kebenaran informasi yang terima dan digunakan dalam penyusunan strategi pemasaran. Konsumen dapat merupakan seorang individu ataupun organisasi, mereka memiliki peran yang berbeda dalam perilaku konsumsi, mereka mungkin berperan sebagai initiator, influencer, buyer, payer atau user. Dalam upaya untuk lebih memahami konsumennya sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen, perusahaan dapat menggolongkan konsumennya ke dalam kelompok yang memiliki kemiripan tertentu, yaitu pengelompokan menurut geografi, demografi, psikografi, dan perilaku.




PERILAKU KONSUMEN DALAM PENGGUNAAN KARTU KREDIT DI
WILAYAH DKI JAKARTA
Risna Sulistyawaty
ABSTRAK


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Di jaman era globalisasi ini untuk melakukan transaksi, dapat digunakan berbagai sarana pembayaran, mulai dari cara yang paling tradisional, sampai dengan cara yang paling modern sekalipun. Sejalan dengan perkembangan jaman ditemukan cara yang paling efisien dan efektif untuk melakukan transaksi pembayaran yaitu dengan menggunakan kartu plastik atau lebih dikenal dengan kartu kredit yang mampu menggantikan fungsi uang sebagai alat pembayaran. Kartu kredit ini dapat pula digunakan untuk berbagai keperluan yang berfungsi sebagai alat pembayaran tunai. Penggunaan kartu kredit dirasakan lebih aman dan praktis untuk segala keperluan, seperti untuk keperluan uang tunai dalam bepergian, bahkan dewasa ini kartu kredit sudah dapat digunakan untuk segala bentuk pembayaran secara internasional. Pelopor pengembangan kartu kredit di Indonesia dilakukan oleh Citibank dan Bank Duta. Dewasa ini jenis kartu kredit yang beredar adalah Master CardVisa Card, Visa BCA, Dinner Club, Amex Card dan kartu-kartu kredit lainnya. Khusus untuk Dinner Club merupakan kartu kredit yang bukan dikeluarkan oleh bank, akan tetapi oleh lembaga pembiayaan seperti PT. Dinner Jaya Indonesia.

1.2  Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana jenis penggunaan kartu kredit dapat memprediksi cluster konsumen ke dalam kelompok pengguna kartu kredit dan kelompok bukan pengguna kartu kredit dan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi motivasi responden untuk menggunakan kartu kredit dan tidak menggunakan kartu kredit.

1.3  Metode Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan metode kajian lapangan (field studies) yaitu suatu kajian ilmiah Non Eksperimental yang secara sistematis mempelajari hubungan atau korelasi dan menguji hipotesis, serta dilakukan dalam situasi kehidupan nyata (Kerlinger, 1986). Selain itu peneliti menggunakan data gabungan yaitu : data primer dengan menyebarkan kuesioner kepada konsumen dan data sekunder yang didapat dari beberapa buku, penelitian sebelumnya, dan dari internet.

1.4  Kesimpulan
Terdapat tiga kelompok pemakai kartu kredit antara lain kelompok pemakai jarang (1-3 kali), kelompok pemakai sedang (4-6 kali) dan kelompok pemakai sering (lebih dari 6 kali). Dari masing-masing kelompok pemakai kartu kredit, dapat diketahui bahwa semakin tinggi pendidikan, jabatan dan pengeluaran rumah tangga seseorang maka semakin tinggi frekuensi pemakaian kartu kreditnya. Selain itu dapat dilihat faktor-faktor yang mempengaruhi atau memotivasi perilaku pemegang kartu kredit untuk menggunakan kartu kreditnya. Faktor-faktor tersebut yaitu faktor keunggulan dan faktor kemudahan. Serta dapat dilihat juga faktor-faktor yang mempengaruhi atau memotivasi perilaku konsumen dalam tidak menggunakan atau tidak memiliki kartu kredit. Untuk bukan pengguna kartu kredit hanya ada satu faktor yaitu faktor tidak butuh.
Hal ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang telah terbentuk bisa dikatakan dengan gaya hidup masing-masing kelompok. Ada yang menggunakan kartu kredit untuk mempermudah hidupnya dan sesuai dengan gaya hidupnya dan ada pula yang tidak menggunakan kartu kredit itu sesuai dengan gaya hidupnya. Karena gaya hidup individu itu berbeda dengan individu yang lainnya.


Nama : Tantri Nur Jayanti
Npm   : 18213792
Kelas  : 3EA10

Sabtu, 20 Juni 2015

Cara Menjadi Seorang Pemimpin

Untuk menjadi seorang pemimpin, Anda tidak harus menjadi seorang pejabat yang terpilih, atau seorang CEO. Seorang pemimpin adalah seseorang yang selalu ingin diikuti oleh orang lain untuk mendapatkan arah dan ide yang baru. Gelar yang bergengsi bisa membuat hal itu terjadi secara sementara, tetapi seorang pemimpin yang sejati menginspirasikan kesetiaan dengan langkah-langkah di bawah ini!

Bagian 1 dari 3: Berpikir Seperti Seorang Pemimpin

1
Percaya Diri. Langkah ini tidak ada hubungannya dengan mengetahui apa yang sedang Anda kerjakan -- selama Anda percaya diri, maka hanya akan ada sedikit orang yang bertanya. Orang selalu mengasumsikan sesuatu, dan pada saat Anda bertindak seperti seharusnya, maka mereka akan mengasumsikan bahwa Anda memang sedang melakukan yang seharusnya dilakukan. Oleh karena itu, pada saat Anda percaya diri, mereka akan berasumsi Anda mengetahui apa yang sedang Anda lakukan. Hal ini memberikan Anda kepercayaan, tanggung jawab, dan kehormatan.
  • Percaya diri bisa dimiliki di berbagai macam situasi. Bayangkan Anda mengatakan, ”Saya tidak tahu jawabannya,” sambil melihat ke bawah, ibu jari diputar-putar, dan kaki Anda menunjukkan kegelisahan. Sekarang bayangkan Anda mengatakan, “Saya tidak tahu jawabannya,” dengan kepala menghadap ke atas, bahu tegak, dan melihat ke mata orang yang sedang diajak bicara. Tidak mengetahui sesuatu adalah hal yang wajar -- tetap percaya diri walaupun Anda tidak megetahui hal tersebut! Kurangnya pengetahuan tidak ada hubungannya dengan kepercayaan diri Anda (atau kemampuan untuk memimpin).
2
Tegas, tetapi baik. Karena Anda memimpin, Anda yang menentukan aturan dan batasan. Terserah Anda untuk membuat suatu sistem, irama, dan alasan untuk suatu keadaan. Untuk melakukannya, Anda harus mempunyai pendirian dan mental yang kuat. Akan tetapi, bersikap angkuh hanya akan memunculkan keinginan untuk suatu perubahan. Berpikirlah secara logis dan pengertian pada saat Anda menyatakan peraturan yang Anda buat.
  • Berikut ini adalah contoh dari sikap kepemimpinan yang buruk: garpu-garpu di sebuah penerbangan selalu menghilang dan tidak ada yang mengetahui penyebabnya. Setelah melalui sebuah penyelidikan, ditemukan bahwa orang yang bertugas untuk mencuci piring membuang garpu-garpu tersebut karena mereka tidak bisa membersihkannya dengan benar (yang akan menyebabkan mereka mendapat teguran).[1] Jika Anda bersikap terlalu angkuh, tim Anda akan membuang garpu-garpu Anda. manajemen yang berbeda akan menghindari hal ini. Jadilah orang yang baik dan simpan semua alat pemotong Anda.
3
Jadilah orang yang ahli. Seorang pemimpin mengatakan “Saya tidak tahu” adalah hal yang wajar. Akan tetapi, mengatakan “Saya tidak tahu” untuk setiap pertanyaan adalah hal yang tidak wajar. Waktu Anda tidak mengetahui sesuatu, cari tahu jawabannya. Anda tidak butuh semua jawaban sekarang, tetapi suatu saat Anda akan membutuhkan salah satunya.
  • Mempunyai suatu tingkat pengetahuan akan membantu Anda merasa percaya diri dan lebih terlihat sebagai seorang pemimpin. Anda bisa memimpin dengan pengetahuan yang kurang, tetapi hanya masalah waktu sebelum orang lain datang dengan pengetahuan dan karisma yang lebih dan mengambil gelar pemimpin dari Anda. Jadi bagaimanapun, siapapun yang akan Anda pimpin, mulailah belajar! Hal itu akan menjadi bermanfaat di masa yang akan datang.
4
Menjadi pengambil keputusan. Anda sedang berada diantara teman-teman, berdebat mengenai apa yang akan dilakukan malam itu. Semua orang membuang-buang waktu mereka dengan mengeluh dan menolak ide orang lain, hingga seseorang maju dan berkata “teman-teman, kita akan melakukan hal "ini”." Orang itu naik ke atas, melihat bahwa situasinya perlu diarahkan, dan mengambil kendali. Pemimpin, pemimpin, pemimpin.
  • Mengetahui dimana posisi Anda berada. Akan ada waktu dimana Anda harus mengambil keputusan untuk diri Anda sendiri dan dimana Anda harus memberikan waktu ke tim untuk membuat kesepakatan. Hargai pengikut -- apa yang akan terjadi jika Anda menolak pendapat mereka? Hal tersebut akan membawa kita ke…
5
Memperhatikan pengikut Anda. Walaupun mereka bukan pemimpin, bukan berarti mereka adalah orang yang bodoh. Mereka akan mengetahui apakah Anda benar-benar mempunyai welas asih dan benar-benar perhatian kepada mereka. Dan jika Anda tidak, mereka akan menyingkirkan Anda. Ingat siapa yang membantu pekerjaan Anda! Tanpa mereka Anda tidak punya orang untuk dipimpin dan bukan seorang pemimpin lagi.
  • Memperhatikan mereka tidak sama dengan setuju dengan keinginan mereka. Anda memimpin (semoga) karena Anda tahu apa yang terbaik untuk tim; mereka mungkin tidak tahu. Hanya karena seseorang tidak setuju dengan Anda tidak berarti Anda harus memberikan apa yang mereka inginkan. Izinkan mereka untuk tidak setuju dengan Anda, dengarkan penjelasan mereka, dan biarkan mereka tahu cara berpikir Anda. Biarkan mereka tahu bahwa Anda peduli, tetapi bertindak dengan cara yang Anda kira paling baik.
6
Percaya bahwa semua orang bisa menjadi seorang pemimpin. Sejujurnya, setiap orang mempunyai keinginan untuk dipimpin. Bayangkan kehidupan ini sebagai sebuah jalan yang gelap -- semakin banyak pemimpin, maka semakin banyak orang di depan Anda yang menerangi jalan. Mana yang Anda inginkan? Orang tidak hanya menginginkan pemimpin, tetapi mereka juga mencari pemimpin. Untuk alasan itu, maka setiap orang bisa menjadi pemimpin. Anda hanya harus mengisi kekosongan itu.
  • Bayangkan Anda pergi ke restoran yang baru (restoran itu adalah kehidupan). Anda bertemu dengan seorang pelayan yang menyapa Anda dengan senyuman dan menjelaskan rasa dari tiga hidangan terbaik mereka, memberi Anda jaminan kepuasan dan mengatakan dia akan menyiapkan yang lain jika Anda tidak menyukainya. Di dalam pikiran Anda ada perasaan lega sambil berpikir “Ya, ini akan menjadi malam yang menyenangkan -- Saya berada di tempat yang benar.” Itu adalah yang diinginkan oleh semua orang "di dalam kehidupan" (dan juga di sebagian besar restoran).
Bagian 2 dari 3: Bersikap Seperti Seorang Pemimpin

1
Tepati janji Anda. Anda tahu bagaimana politikus ditampilkan sebagai orang yang ingkar janji? Bagus. Anda juga tahu bahwa orang-orang membenci politikus? Bagus, Anda sudah mengetahuinya. Ingkari janji Anda maka Anda akan kehilangan kehormatan. Anda bisa pantas memakai setelan jas, Anda bisa memiliki karisma, dan Anda bisa memiliki pengetahuan, tetapi jika Anda tidak menepati janji, orang-orang tidak akan memberikan Anda kemudahan.
  • Bagian yang tidak terpisahkan dari menepati janji adalah mengetahui apa yang bisa atau tidak bisa dilakukan. Jika Anda bisa menetapkan keduanya, maka rintangan yang lain adalah kejujuran. Berlatihlah dengan anak Anda, rekan Anda, dan berlatih setiap ada kesempatan. Dengan mengembangkan moral yang baik akan menghilangkan ruang untuk pertanyaan mengenai kemampuan Anda dalam memimpin dan memegang kekuasaan.
2
Berpakaian yang pantas disesuaikan dengan tempat Anda berada. Jika Anda berjalan ke dalam sebuah kantor dengan menggunakan setelan jas dan dasi dan sering melihat jam, maka orang-orang akan berasumsi bahwa Anda akan memarahi seseorang yang datang terlambat untuk sebuah pertemuan bisnis.. Masuk ke dalam sebuah kantor menggunakan baju kaos dan topi bisbol maka orang-orang akan mulai ingin mengetahui dimana pizza bagian mereka. Jika Anda ingin memimpin, Anda harus melihat tempat Anda berada.
  • Disini perlu dibedakan antara berpakaian untuk membuat orang terkesan dan berpakaian mempengaruhi orang. Anda tidak ingin berpakaian untuk membuat orang terksesan -- terkesan mungkin tidak tepat untuk situasi dimana anda berada (contohnya jika Anda mengantar pizza, jangan memakai setelan jas). Anda ingin mempengaruhi orang melalui persepsi tentang Anda. Gambaran apa yang ingin Anda berikan? Anda bisa mengontrol persepsi orang berdasarkan apa yang Anda pakai (hal yang mengecewakan, tetapi itulah kenyataannya).
3
Perlakukan tim Anda dengan baik. Anda sudah tahu bagaimana cara untuk memperhatikan tim Anda. Tetapi Anda harus menindaklanjuti dengan tindakan. Jika Anda menasihati mereka untuk kompak, bersikap seolah-olah mereka sedang bersenang-senang, dan ramah dengan klien, tetapi memarahi mereka setiap 5 menit pada saat mereka tidak senyum, maka Anda tidak menjalani pesan Anda. Untuk seterusnya berikan contoh dalam memberi perhatian dan mereka akan mengikuti.

Pepatah lama yang mengatakan, “Lakukan yang saya katakan bukan saya lakukan” adalah omong kosong. Mungkin akan berlaku jika Anda masih berumur 6 tahun, tetapi tidak akan berhasil untuk anggota tim yang sudah dewasa. Mereka mungkin tidak akan mengatakannya secara langsung, tetapi mereka akan tidak bahagia, pada akhirnya mengundurkan diri, dan hal ini akan mengurangi hasil Anda. Mungkin tidak akan memberikan dampak langsung, tetapi pada akhirnya jika ada kemunafikan di bagian Anda, maka akan menjatuhkan Anda.

5
Tunjukkan komitmen untuk kemajuan tim Anda. Agar Organisasi Anda tumbuh, setiap orang harus menjadi lebih baik. Hal ini tidak ada hubungannya hanya dengan Anda yang menjadi hebat -- Anda harus membuat tim Anda menjadi hebat. Idealnya pada saat tugas selesai mereka akan mengatakan “Kita berhasil!”, bukan Anda yang mengatakan “Saya berhasil!” ini mengenai keseluruhan kelompok, bukan seseorang.
  • Untuk membuat tim Anda tumbuh, Anda harus memperhatikan mereka. Memaksa mereka dengan target dan membiarkan mereka untuk menebak peranan mereka adalah tidak adil untuk mereka. Kenalilah mereka sampai tahap perseorangan dan percaya bahwa mereka akan menjadi anggota yang memiliki sumber daya lebih di kelompok Anda (peranan apa yang cocok untuk mereka? Sumber daya apa yang bisa mereka gunakan). Bantu mereka untuk belajar, bantu mereka untuk tumbuh, dan bantu mereka untuk memegang kendali pada saat Anda butuh bantuan.
6
Ajukan pertanyaan. Sebagai seorang pemimpin, Anda seperti tidak tersentuh. Orang-orang mungkin tidak menemui Anda karena Anda orang yang berkuasa di organisasi tersebut. Mereka tidak ingin sembarangan bicara dan membuat keributan. Tahu bahwa Anda menghadapi tekanan secara terus-menerus dan Anda perlu untuk istirahat. Bagaimana Anda melakukan hal ini? Bertanyalah terlebih dahulu!
  • Jangan menunggu umpan balik dari tim Anda -- mereka mungkin tidak pernah memberikannya. Bagaimanapun juga Anda adalah orang yang mengatur bagaimana keadaan berjalan; mereka mungkin berpikir pendapat mereka tidak penting. Tanyakan kepada mereka mengenai hal-hal yang sudah Anda lakukan, yang sedang mereka lakukan, dan apa yang mereka lihat yang bisa membuat proses menjadi lebih baik. Hanya karena mereka tidak memimpin bukan berarti mereka tidak punya ide-ide yang hebat!
7
Memimpin hanya pada saat Anda dibutuhkan. Pemimpin tidak datang begitu saja ke dalam ruangan dan berkata “INILAH SAYA.” Hal ini bukan mengenai mengambil alih keadaan dengan suara yang keras dan membentuknya sesuai dengan visi Anda, tidak, tidak sama sekali. Hal ini adalah mengenai melihat bahwa sesuatu harus dilakukan dan muncul berdasarkan keadaan yang terjadi.
  • Di banyak situasi, tidak ada orang yang bergelar pemimpin. Itu hanya sebuah posisi yang secara alami dimiliki oleh seseorang. Orang-orang tidak akan memberikan hak istimewa secara langsung, tetapi mereka bisa mencegah Anda untuk mendapatkannya. Hindari untuk muncul sebagai orang yang dominan, yang berpikir dia adalah seorang yang suka mengambil, dan tunggu saat yang tepat. Anda akan merasakannya.
8
Mulai “melihat” lebih banyak daripada “melakukan” lebih banyak. Mungkin Anda sudah mulai memahami, menjadi seorang pemimpin lebih ke kualitas diri dan rangkaian tindakan. Untuk memimpin sebuah keadaan, Anda perlu untuk melihatnya muncul, lihat bagaimana Anda bisa membantu, dan melihat ke arah yang mulai turun. Biarkan tim Anda yang mengerjakannya. Anda hanya harus mempunyai sebuah visi.
  • Hal ini sama dengan “Orang yang berteriak paling keras adalah orang yang didengar.” Hanya karena seseorang lantang belum tentu mereka benar. Anda tidak harus melaju 150 km/jam meninggalkan jejak puing-puing di belakang Anda untuk menjadi seorang pemimpin. Sebenarnya Anda seharusnya tidak melakukan hal itu. Waktu Anda seharusnya digunakan untuk menginterpretasikan, membentuk, dan memberikan solusi.
Bagian 3 dari 3: Menyatukan Itu Semua

1
Mengidentifikasi sebuah masalah. Lihat keadaan sekitar dan temukan cara untuk membuat dunia menjadi lebih baik. Amati keadaan di sekitar Anda dan dengarkan orang. Apa yang bisa Anda bantu? Tantangan apa yang belum terjawab? Apa yang bisa digunakan oleh organisasi?
  • Temukan bakat Anda, kembangkan, dan fokus untuk menggunakannya untuk membuat perbedaan. Bakat Anda akan cocok untuk menyelesaikan masalah apa? Pikirkan masalah-masalah dalam pengertian yang lebih besar - mereka tidak selalu mudah untuk didefinisikan.
  • Cari kebutuhan, ceruk, konflik, celah yang butuh untuk diisi, dan tidak efisien. Solusinya tidak akan selalu kreatif atau canggih; kadang-kadang solusinya adalah hal yang sederhana.
2
Pikirkan gambaran besarnya. Pada saat Anda memecahkan masalah (atau meningkatkan sesuatu yang sudah baik), Anda mungkin akan menemukan pola, dan ingin tahu apakah masalah-masalah tersebut adalah tanda-tanda untuk masalah yang lebih dalam dan lebih besar. Thoreau pernah berkata, “Banyak orang yang berusaha menyelesaikan masalah, tetapi jarang yang berusaha menyelesaikan akar permasalahannya.” Ambil sebuah langkah ke belakang dan coba untuk menemukan akar pemasalahan. Persoalan yang semakin dalam biasanya tidak bisa dipecahkan sendiri; hal itu akan membutuhkan usaha dari kelompok, dimana peran Anda sebagai seorang pemimpin memainkan peranannya.
  • Jika Anda bekerja dekat dengan sebuah tim, gunakan mereka untuk kemajuan Anda. Peranan apa yang “mereka” rasa cocok untuk mereka? Bagaimana waktu mereka digunakan? Ide-ide apa yang mereka punya yang belum diterapkan. Pertumbuhan adalah persoalan untuk mengatur ulang dan memproses ulang -- tidak harus sebuah masalah sama sekali.
3
Jadilah proaktif. Jika Anda mempunyai ide-ide yang muncul di pikiran Anda tentang masalah sebenarnya yang lebih dalam, Anda mungkin bisa memperkirakan masalah yang bisa mengumpulkan kita sebagai hasilnya. Daripada menunggu masalah-masalah tersebut muncul, ambil langkah-langkah pencegahan. Jika Anda tidak bisa mencegah masalah-masalah tersebut, paling tidak Anda bisa bersiap-siap. Hal itu adalah perbedaan mendasar antara seorang pemimpin dengan manajer. Seorang manajer yang bagus mempunyai respon yang bagus untuk berbagai macam situasi; seorang pemimpin yang baik mengambil tindakan yang efektif untuk mencegah dan mengatasi keadaan sebelum benar-benar terjadi.
  • jangan takut untuk memberikan peran ke anggota tim Anda. Jika Anda melihat potensi sebuah masalah, buatlah sebuah satuan tugas untuk pencegahan. Bagaimanapun, untuk itulah tim Anda ada.
4
"Buat keputusan" dan "bertanggung jawab untuk akibatnya." Untuk mengeluarkan pengaruh yang lebih dan mengatasi masalah yang lebih besar, Anda akan membutuhkan kekuatan sebagai pengambil keputusan, dan keputusan-keputusan tersebut akan mempengaruhi orang-orang yang memberikan kekuatan itu kepada Anda. Ini sebuah tanggung jawab sama seperti sebuah kehormatan. Tidak hanya Anda harus bisa mengambil keputusan berdasarkan suara, tetapi Anda juga harus bersedia bertanggung jawab untuk mereka. Jika hal menjadi salah, orang akan mengasumsikan bahwa itu adalah kesalahan Anda (walaupun iya atau tidak).
  • Pikirkan diri Anda sebagai seorang kapten dari sebuah kapal; nasib dari kapal berada di tangan Anda, dan terserah Anda untuk mengarahkan semua orang ke arah yang benar.
  • Berlatih kebijaksanaan pada saat bertanggung jawab; harapkan yang terbaik dan persiapkan untuk yang terburuk.
  • Jika Anda tidak siap untuk mengambil tanggung jawab atas keputusan Anda -- jika Anda mempunyai keragu-raguan dan tidak percaya diri – mungkin mengundurkan diri adalah ide yang bagus. Pemimpin yang tidak tegas biasanya menjadi seorang pemimpin yang semena-mena.
5
Bagi visi Anda. Sebagai seorang pemimpin, Anda bisa melihat masalah yang lebih besar, tetapi Anda juga bisa melihat hal menjadi “lebih baik” jika kita bisa menyingkirkan rintangan tersebut. Untuk mendapatkan orang yang membantu Anda di saat keadaan berubah, Anda perlu untuk membagi visi yang positif tersebut kepada mereka. Beri mereka inspirasi. Beri mereka motivasi. Beri mereka petunjuk. Tunjukkan kepada mereka bagaimana tindakan mereka membawa semua orang semakin dekat ke impian tersebut.
  • Kutipan dari John Gardner mengatakan, ”Hal yang sangat penting, pemimpin bisa memahami dan mengucapkan tujuan yang mengangkat orang dari keadaan yang kecil dan meyatukan mereka dalam pencarian tujuan yang layak untuk usaha mereka yang paling baik.” Usahakan orang itu adalah Anda.
6
Ingat bahwa ini mengenai seluruh tim. Pemimpin hebat melihat peranan mereka sampai ke akhir, dan melihat diri mereka sebagai alat untuk tujuan yang lebih dalam; kejayaan, gengsi, atau kekayaan lebih kepada efek samping daripada motivasi. Lagi pula, tidak ada yang bisa diselesaikan hanya dengan usaha seorang Pria. Atau wanita!
  • Jika Anda ingin merealisasikan sebuah visi, cara yang paling efektif untuk melakukannya adalah bukan dengan tentara yang terdiri dari robot; tentara itu hanya akan bertahan selama Anda ada. Untuk hasil jangka panjang, ungkapkan visi Anda dan ijinkan orang lain menggunakannya sebagai visi mereka, dan biarkan itu tersebar seperti kebakaran.
  • Berpikirlah bahwa Anda adalah awal dari reaksi berantai -- jika sudah dimulai, Anda bisa menjauh dan itu akan tetap berjalan tanpa ada usaha di bagian Anda.
Tips
  • ”Jika tindakan Anda menginspirasikan orang lain untuk bermimpi lebih besar, belajar lebih banyak, melakukan lebih banyak, dan menjadi lebih baik, maka Anda adalah seorang pemimpin.” (John Quincy Adams)
  • Bantu orang lain untuk mencapai tujuan mereka.
  • Karisma tentu membantu, tetapi bukan hal yang paling penting. Ada banyak pemimpin yang dikagumi di sejarah manusia yang dikenal sebagai orang yang kurang ramah, mempesona orang di kelompoknya. Yang penting adalah, orang “mempercayai” mereka, dan mereka terinspirasi dari visi para pemimpin tersebut. Yang Anda “akan” butuhkan adalah kemampuan komunikasi yang bagus (apakah itu melalui perkataan, tulisan, bahkan karya seni) jadi Anda bisa memberikan visi Anda.
  • Bantu tim Anda untuk mencapai tujuan.
  • Selalu latih yang Anda ajarkan. Tidak ada cara lain yang lebih baik untuk kehilangan kredibilitas sebagai seorang pemimpin selain menjadi seorang yang munafik.

VISI :

Menjadi pelopor perusahaan makanan dan minuman terkemuka yang berkualitas dengan cita rasa tinggi baik di tingkat nasional maupun internasional.

MISI :
  1. Menghasilkan produk-produk perusahaan menjadi produk unggulan
  2. Menyediakan produk-produk pilihan dengan cita rasa tinggi, inovatif , harga terjangkau dan memastikan ketersediannya bagi pelanggan
  3. Berkomitmen untuk senantiasa meningkatkan kompetensi karyawan, proses produksi yang efisien, dan teknologi yang berkembang.
  4. Meningkatkan nilai-nilai perusahaan secara berkesinambungan


Tantri Nur Jayanti
18213792
2EA10

Sabtu, 09 Mei 2015

Profesi Pegawai Negeri

Pegawai Negeri Sipil atau biasa kita sebut PNS sebenarnya merupakan salah satu dari bagian terpenting untuk eksistensi suatu negara. Kedudukan dan peran serta PNS sangat penting karena PNS selain sebagai pelayan masyarakat, sejati-nya merupakan aparatur pelaksana dari pemerintah guna penyelenggaraan pemerintahan dan kelancaran suatu pembangunan dalam rangka mencapai tujuan nasional.

Berbicara mengenai kinerja PNS erat kaitannya dengan gaji PNS, dimana profesi ini merupakan salah satu profesi idaman bagi pencari kerja di Indonesia. Mengapa demikian? Apakah kesejahteraan yang menjadi daya tariknya? Beruntunglah Anda yang berprofesi sebagai PNS, karena setiap tahun mengalami kenaikan gaji pokok.
Apabila kita lihat perkembangan gaji PNS dari tahun ke tahun, Kebijakan kenaikan gaji pokok PNS menyesuaikan inflasi tiap tahunnya. Artinya dengan asumsi kondisi ekonomi stabil, persentase kenaikan Gaji PNS berkisar pada angka 5 – 7 % setiap tahunnya.
Sambil menunggu informasi resmi dari pemerintah atau lebih tepatnya Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Kenaikan gaji pokok PNS 2015. Mari kita lihat kebelakang pada RPP Gaji Pokok PNS pada tahun 2014 yaitu gaji pokok PNS ditetapkan naik 6 %. Kenapa 6%? Persentase 6 % ini dimaksudkan untuk mempertahankan daya beli PNS/ASN dari inflasi yang ditargetkan pemerintah pada APBN 2014 sebesar 5,5%. Jadi sebenarnya naik gaji PNS di tahun 2014 lalu hanya 0.5 %? Cukup atau kurang? silahkan berikan komentar Anda dibawah.

Rancangan Peraturan Pemerintah Tentang Gaji PNS 2015

Pada tahun 2015 ini Pemerintah tengah menyusun Sistem Gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) atau PNS sebagai tindak lanjut dari ditetapkannya UU ASN pada tahun lalu. Rencananya Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) terkait Gaji PNS 2015 ini akan mendorong tingkat kesejahteraan para PNS baik di pusat maupun di daerah.
Pada RPP Gaji PNS tersebut Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (PAN-RB) Yuddy Crishnandi menyebutkan dengan tegas bahwa tidak ada perbedaan gaji pokok antara PNS Pusat dan PNS Daerah.
Kesejahteraan PNS pun diperhatikan dengan cara menambahkan komponen tunjangan kinerja dan tunjangan kemahalan, namun di satu sisi para PNS/ASN dituntut untuk lebih meningkatkan kinerjanya.
Mengutip dari pemberitaan dari berbagai media, pada RPP Gaji PNS 2015 nanti, Gaji PNS tidak lagi dihitung berdasarkan pangkat dan golongan, melainkan melalui indikator kinerja atau beban kerja. Semisal PNS Golongan IIIA yang memiliki workload lebih banyak daripada rekan kerjanya yang memiliki Golongan sama akan memperoleh lebih banyak penghasilannya. Rencana perhitungan gaji PNS ini akan dihitung berdasarkan grade beban kerja mulai 1-29. Menarik?
Jadi PNS yang masuk tahunnya sama, pendapatannya akan berbeda? lebih baik dari pada yang kerja dan tidak kerja memperoleh gaji sama. :)
Namun, syaratnya setiap PNS harus berkinerja minimal 1.250 jam dalam setahun dan harus menyelesaikan Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) atau Key Performance Indicator (KPI) yang lebih sering kita dengar.
Sempat muncul pada akhir 2014 lalu, issue penghapusan gaji ke 13 PNS yang ternyata merupakan kabar burung. Setelah dilakukan beberapa cross check mengenai kebenarannya ternyata pemerintahan Jokowi-JK tetap melanjutkan program tersebut.
Kabar baiknya bagi para PNS/ASN/TNI dan POLRI pada 10 Februari 2015 lalu Dirjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan telah menerbitkan Peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor Per 3/PB/2015. Inti dari Peraturan tersebut adalah kenaikan tunjangan beras bagi PNS/ASN/TNI dan POLRI sebesar 3,8% dan berlaku surut sejak 1 Januari 2014, kemudian harga pembelian beras oleh pemerintah kepada Perum Bulog untuk Tunjangan Pangan Golongan Anggaran yaitu PNS, TNI dan Polri ditetapkan sebesar Rp8.047 per kilogram. Sementara, Tunjangan beras dalam bentuk uang untuk PNS dan pensiunan/penerima tunjangan yang bersifat pensiun ditetapkan sebesar Rp7.242 per kilogram.

Rencana Sistem Baru Pembayaran Pensiun PNS

Saat ini muncul juga wacana perubahan sistem pembayaran bagi pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Wacana tersebut muncul dari Kementerian PAN-RB yang melakukan inisiatif konsep pembayaran fully funded, dimana dana pensiun adalah akumulasi dari pembayaran premi murni dari PNS tersebut.
Rencananya sistem baru pembayaran pensiun PNS, TNI dan POLRI tersebut akan aktif mulai 2017, gagasan dari sistem baru tersebut sejalan dengan pelaksanaan UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN).
Pensiunan PNS dan TNI/Polri tidak lagi dibiayai dari APBN melainkan dari akumulasi premi murni PNS.
Pihak Kementerian PAN-RB pun berkeyakinan sistem baru ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan PNS dan TNI/Polri, sekaligus mengatur sistem penggajian baru bagi PNS dan TNI/Polri yang masih aktif. Sebagai informasi, beban pensiun dalam APBN rata-rata naik sekitar Rp 5 triliun tiap tahunnya.
Bahkan pada realisasi APBN 2012 anggaran pensiun mencapai Rp 69 triliun dan APBN 2013 sekitar Rp 74 triliun. Hal ini dikarenakan pemerintah masih memberi subsidi melalui pos dana pensiun PNS pada APBN, walaupun para abdi negara juga telah dipotong gajinya per bulan untuk tunjangan hari tua.
Berdasarkan data Lembaga Administrasi Negara (LAN) pemotongan gaji PNS saat ini sebesar 10 persen. Di mana 2 persen untuk Askes, 2,35 persen untuk tabungan hari tua dan 4,75 persen untuk pensiun. Sistem baru pembayaran tunjangan pensiun PNS ini dinilai dapat menghemat anggaran negara baik dari tanggungan kewajiban pembayaran anggaran pensiun maupun potensi kebocoran anggaran subsidi pensiun. Salah satu kebijakan terobosan di pemerintahan Presiden Jokowi, dan menarik untuk kita tunggu? Setujukah Anda??

Kesimpulan Kritik & Saran

Dari wacana diatas, kenaikan gaji PNS diberikan agar para abdi negara tersebut dapat memberikan kinerja yang lebih baik dan lebih baik lagi. Pelayanan yang diberikan PNS kepada masyarakat juga diharapkan mengalami peningkatan dan lebih baik di tahun-tahun mendatang.
Menilik mengenai kebijakan untuk menaikkan gaji pokok rutin setiap tahun untuk PNS/ASN/TNI/Polri sebenarnya memiliki tujuan untuk meringankan beban hidup pada organ-organ aparatur negara tersebut. Karena jika tidak ada kenaikan gaji dan dengan inflasi yang tetap naik setiap tahunnya maka pemasukan PNS dinilai akan habis dengan biaya hidup yang semakin tinggi pula. Setujukah Anda?


Tantri Nur Jayanti
18213792
2EA10